I am the next generation of muslim Nurse

Rabu, 21 Januari 2009

HIDROCEPHALUS

Laporan Pendahuluan
Hidrocephalus

1. Pengertian.

Hidrocephalus adalah kelebihan akumulasi cairan serebrospinal didalam ventrikrl serebral, ruang arachnoid, atau ruang subdural (cindy smith, 1998)

Hidrocephalus adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan intrkranial yang disebabkan karena adanya penumpukan cerebrospinal fluid didalam ventrikel otak (Sharon & Terry; 1993; 292).

Hidrocephalus adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh produksi yang tidak seimbang dan penyerapan dari cairan cerebrospinal (CSF) di dalam sistem Ventricular. Ketika produksi CSF lebih besar dari penyerapan, cairan cerebrospinal mengakumulasi di dalam sistem Ventricular.

Beberapa type hydrocephalus berhubungan dengan kenaikan tekanan intrakranial. 3 (Tiga) bentuk umum hydrocephalus :

a. Hidrocephalus Non – komunikasi (nonkommunicating hydrocephalus)

Biasanya diakibatkan obstruksi dalam system ventrikuler yang mencegah bersikulasinya CSF. Kondisi tersebut sering dijumpai pada orang lanjut usia yang berhubungan dengan malformasi congenital pada system saraf pusat atau diperoleh dari lesi (space occuping lesion) ataupun bekas luka. Pada klien dewasa dapat terjadi sebagai akibat dari obstruksi lesi pada system ventricular atau bentukan jaringan adhesi atau bekas luka didalam system di dalam system ventricular. Pada klien dengan garis sutura yag berfungsi atau pada anak – anak dibawah usia 12 – 18 bulan dengan tekanan intraranialnya tinggi mencapai ekstrim, tanda – tanda dan gejala – gejala kenaikan ICP dapat dikenali. Pada anak – anak yang garis suturanya tidak bergabung terdapat pemisahan / separasi garis sutura dan pembesaran kepala.

b. Hidrosefalus Komunikasi (Kommunicating hidrocepalus)

Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada aliran CSF tetapi villus arachnoid untuk mengabsorbsi CSF terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit atau malfungsional. Umumnya terdapat pada orang dewasa, biasanya disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid dengan darah sesudah terjadinya hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan tanda dan gejala – gejala peningkatan ICP)

c. Hidrosefalus Bertekan Normal (Normal Pressure Hidrocephalus)

Di tandai pembesaran sister basilar dan fentrikel disertai dengan kompresi jaringan serebral, dapat terjadi atrofi serebral. Tekanan intrakranial biasanya normal, gejala – gejala dan tanda – tanda lainnya meliputi ; dimentia, ataxic gait, incontinentia urine. Kelainan ini berhubungan dengan cedera kepala, hemmorhage serebral atau thrombosis, mengitis; pada beberapa kasus (Kelompok umur 60 – 70 tahun) ada kemingkinan ditemukan hubungan tersebut.

2. Etiologi

Hydrosephalus dapat disebabkan oleh kelebihan atau tidak cukupnya penyerapan CSF pada otak atau obstruksi yang muncul mengganggu sirkulasi CSF di sistim ventrikuler dan dapat juga disebabkan oleh kelaianan bawahan (konginetal ), infeksi, neoplasma, perdarahan.

Kondisi diatas pada bayi dikuti oleh pembesaran kepala. Obstruksi pada lintasan yang sempit (Framina Monro, Aquaductus Sylvius, Foramina Mengindie dan luschka) pada ventrikuler menyebabkan hidrocephalus yang disebut : Non comunicating (Internal Hidricephalus)

Obstruksi biasanya terjadi pada ductus silvius di antara ventrikel ke III dan IV yang diakibatkan perkembangan yang salah, infeksi atau tumor sehingga CSF tidak dapat bersirkulasi dari sistim ventrikuler ke sirkulasi subarahcnoid dimana secara normal akan diserap ke dalam pembuluh darah sehingga menyebabkan ventrikel lateral dan ke III membesar dan terjadi kenaikan ICP.

Type lain dari hidrocephalus disebut : Communcating (Eksternal Hidrocephalus) dmana sirkulasi cairan dari sistim ventrikuler ke ruang subarahcnoid tidak terhalangi, ini mungkin disebabkan karena kesalahan absorbsi cairan oleh sirkulasi vena. Type hidrocephalus terlihat bersama – sama dengan malformasi cerebrospinal sebelumnya.

3. Patofisiologi

Penting untuk memahami perkembangan cairan cerebrospinal (CSF) dari berbagai hubungan yang membentuk Ventricular dan ruang Subarachcoid.

Ventrikel Sirkulasi Cairan mengalir dari cabang sampai ke bilik jantung, melalui Foramen Monro menuju bilik jantung ketiga, tempat dimana bergabung dengan cairan yang keluar pada bilik jantung ketiga tersebut. Dari cairan itu mengalir melalui saluran Sylvius menuju bilik jantung keempat tempat banyak cairan dibentuk, kemudian meninggalkan bilik jantung keempat menuju cabang samping foramen luschka dan garis tengah foramen Magendie ke dalam Cisterna Magna. Dari situ akan mengalir ke bagian otak dan diserap oleh beberapa mekanisme yang menghisap antara lain arachnoid villi, sinuses (lubang yang menghubungkan rongga hidung dengan dasar kepala, urat darah halus, otak).

4. Tanda dan Gejala

Kepala bisa berukuran normal dengan fontanela anterior menonjol, lama kelamaan menjadi besar dan mengeras menjadi bentuk yang karakteristik oleh peningkatan dimensi ventrikel lateral dan anterior – posterior diatas proporsi ukuran wajah dan bandan bayi.

Puncak orbital tertekan kebawah dan mata terletak agak kebawah dan keluar dengan penonjolan putih mata yang tidak biasanya.

Tampak adanya dsitensi vena superfisialis dan kulit kepala menjadi tipis serta rapuh.

Uji radiologis : terlihat tengkorak mengalami penipisan dengan sutura yang terpisah – pisah dan pelebaran vontanela.

Ventirkulogram menunjukkan pembesaran pada sistim ventrikel . CT scan dapat menggambarkan sistim ventrikuler dengan penebalan jaringan dan adnya massa pada ruangan Occuptional.

Pada bayi terlihat lemah dan diam tanpa aktivitas normal. Proses ini pada tipe communicating dapat tertahan secara spontan atau dapat terus dengan menyebabkan atrofi optik, spasme ekstremitas, konvulsi, malnutrisi dan kematian, jika anak hidup maka akan terjadi retardasi mental dan fisik.

5. Manifestasi klinik

Gejala klinis lain antara lain, pembuluh darah di kulit kepala yang tampak makin jelas seiring penonjolan ubun-ubun bayi, gangguan sensorik-motorik, gangguan penglihatan dan gerakan bola mata, penurunan aktivitas mental, suhu badan yang sulit dikendalikan, muntah, kejang, serta berujung pada gangguan fungsi vital.

Penyebab Hidrocephalus ada bermacam-macam, diakibat oleh dua :

1) Rusaknya cairan cerebrospinal

2) Bendungan cairan cerebrospinal menuju sistem ventricular.

Jarang terjadi sebuah tumor choroid plexus menyebabkan perkembangan pengeluaran cairan cerebrospinal dalam kamar jantung, yang menjadi membesar dan memadat pada inti otak kaku dan kecil, ketika ini terjadi yakni sebelum penyatuan jahitan bedah, menghasilkan tengkorak yang membesar seperti kamar jantung yang membesar.

Hidrocephalus yang tidak dapat disembuhkan adalah rusaknya penghisapan cairan cerebrospinal, sedangkan adanya hubungan cairan cerebrospinal menuju sistem ventricular digolongkan pada Hidrocephalus yang dapat disembuhkan. Banyak masalah dalam kaitan dengan Hidrocephalus yang tak dapat disembuhkan adalah akibat dari cacat. Meskipun cacat itu biasanya nampak pada masa kecil yang lebih awal, itu bisa menjadi bukti bahwa ia telah ada sebelum lahir bagi anak-anak yang lahir terlambat maupun orang dewasa yang lahir lebih awal. Sebab lain mencakupi neoplasma, infkesi dan trauma. Halangan bagi cairan normal dapat terjadi pada jalan kecil dicairan cerebrospinal yang menghasilkan tekanan dan pembesaran pada jalan kecil yang terdekat di tempat halangan.

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi

Pengobatan pada hidrocephalus langsung diberikan kepada :

1) Mengurangi hidrocephalus itu sendiri

2) Mengobati komplikasi

3) Mengatasi masalah yang berhubungan dengan efek pada gangguan perkembangan psikomotor.

Pengobatan itu dilakukan dengan beberapa cara keucali operasi pembedahan.

Terapi medis sangat mengecewakan, banyak bayi yang lahir dengan pendarahan terus-menerus yaitu sambungan syaraf mengalami kebocoran dan pengobatan sudah banyak diterapkan namun tidak membawa hasil yang memuaskan.

Pada tindakan lumbal fungsi yang serial dan medication yang digunakan hasilnya sangat bervariasi.

Pengobatan dengan acetazolamide dan isosorbide atau furosimida dapat menekan produksi CSF pada setiap kasus.

  1. Pengobatan dengan pembedahan (Operasi)

Penanganan bedah merupakan terapi pilihan pada sejumlah kasus hidrocephalus.

Cara ini dengan secara langsung untuk mengeluarkan sumbatan-sumbatan sebagai contoh receptio neoplasma, kiste, hematom, jarang terjadi pada produksi cairan yang berlebihan, exterpasi plexus (plexectomy atau cuagulasi electric) namun banyak anak membutuhkan prosedur shunt yang mengakibatkan pengaliran CSF dari ventrikel ke bagian extracranial biasa peritonium.

Sistem shunt terdiri dari cateter ventrikel, flush pompa, katup aliran unidirectional dan sebuah ujung cateter. Semuanya merupakan radiopag untuk pengamatan setelah placemen. Semuanya dicoba ketepatannya sebelum incersi.

Sebuah recervoir ditambahkan untuk mengalirkan secara langsung ke dalam sistim ventrikular untuk memberikan obat-obatan dan mengeluarkan cairan. Untuk semua model katup dibentuk untuk membuka dan menutup. Membuka sebelum terjadi tekanan pada intraventrikuler dan menutup ketika tekanan berada dibawah level yang normal, semuanya untuk mencegah aliran kembali. Tekanan tinggi pada katup untuk mencegah komplikasi dari decompretion pada ventrikel dan tekanan sedang pada katup digunakan pada anak-anak khususnya pada long standing hidrocephalus sedangkan tekanan rendah pada bayi kecil.

7. Komplikasi

Komplikasi terbesar pada VP Shunt adalah infeksi dan malfungsi. Malfungsi lebih sering disebabkan oleh obstruksi mekanik di dalam ventrikel dari bahan-bahan khusus (jaringan atau exudate) atau ujung distal dari trombosis atau displacement sebagai akibat dari pertumbuhan. Anak dengan obstruksi shunt sering menunjukan kegawatan dengan manifestasi klinik peningkatan ICP, yang lebih sering disertai dengan status neorologis yang jelek.

Komplikasi yang sering terjadi adalah infkesi shunt yang dapat terjadi setiap saat tetapi resiko terbesar terjadi pada 1-2 bulan mengikuti placement. Infeksi umumnya akibat dari intercurent infection pada saat shunt placement. Infeksti itu meliputi septik, endocarditis bacterial, infeksi luka, nefritis shunt, meningitis dan ventrikulitis. Meningitis dan ventrikulitis adalah of greatest concern, selama ditemukan komplikasi infeksi CNS. Infeksi dapat diobati dengan pengobatan pasive antibiotika yang diberikan secara intravena. Sebagian infeksi membutuhkan removal of the shunt sampai infeksi dapat dikontrol. External ventricular drainase digunakan sampai CSF steril.

Sebuah komplikasi shunt yang serius adalah hematoma subdural yang disebabkan oleh reduksi yang cepat pada ICP dan ukurannya. Komplikasi yang dapat terjadi adalah peritonitis abses abdominal, perporasi organ-organ abdomen oleh catater atau trokar (pada saat insersi), fistula hernia dan ilius.

8. Diagnosa Keperawatan Dan Intervensi

a. Pre Operatif

1) Gangguan rasa nyaman: Nyeri sehubungan dengan meningkatkanya tekanan intrakranial .

Data Indikasi : Adanya keluahan Nyeri Kepala, Meringis atau menangis, gelisah, kepala membesar

Tujuan ; Klien akan mendapatkan kenyamanan, nyeri kepala berkurang

Intervensi :

§ Jelaskan Penyebab nyeri.

§ Atur posisi Klien

§ Ajarkan tekhnik relaksasi

§ Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian Analgesik

§ Persapiapan operasi

2) Kecemasan Orang tua sehubungan dengan keadaan anak yang akan mengalami operasi.

Data Indikasi : Ekspresi verbal menunjukkan kecemasan akan keadaan anaknya.

Tujuan : Kecemasan orang tua berkurang atau dapat diatasi.

Intervensi :

§ Dorong orang tua untuk berpartisipasi sebanyak mungkin dalam merawat anaknya.

§ Jelaskan pada orang tua tentang masalah anak terutama ketakutannya menghadapi operasi otak dan ketakutan terhadap kerusakan otak.

§ Berikan informasi yang cukup tentang prosedur operasi dan berikan jawaban dengan benar dan sejujurnya serta hindari kesalahpahaman.

3) Potensial Kekurangan cairan dan elektrolit sehubungan dengan intake yang kurang diserta muntah.

Data Indikasi ; keluhan Muntah, Jarang minum.

Tujuan : Tidak terjadi kekurangan cairan dan elektrolit.

Intervensi :

§ Kaji tanda – tanda kekurangan cairan

§ Monitor Intake dan out put

§ Berikan therapi cairan secara intavena.

§ Atur jadwal pemberian cairan dan tetesan infus.

§ Monitor tanda – tanda vital.

b. Post – Operatif.

1) Gangguan rasa nyaman : Nyeri sehubungan dengan tekanan pada kulit yang dilakukan shunt.

Data Indikasi ; adanya keluhan nyeri, Ekspresi non verbal adanya nyeri.

Tujuan : Rasa Nyaman Klien akan terpenuhi, Nyeri berkurang

Intervensi :

§ Beri kapas secukupnya dibawa telinga yang dibalut.

§ Aspirasi shunt (Posisi semi fowler), bila harus memompa shunt, maka pemompaan dilakukan perlahan – lahan dengan interval yang telah ditentukan.

§ Kolaborasi dengan tim medis bila ada kesulitan dalam pemompaan shunt.

§ Berikan posisi yang nyama. Hindari posisi pada tempat dilakukan shunt.

§ Observasi tingkat kesadaran dengan memperhatikan perubahan muka (Pucat, dingin, berkeringat)

§ Kaji orisinil nyeri : Lokasi dan radiasinya.

2) Resiko tinggi terjadinya gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan intake yang tidak adekuat.

Data Indikasi ; Adanya keluhan kesulitan dalam mengkonsumsi makanan.

Tujuan : Tidak terjadi gangguan nutrisil.

Intervensi :

§ Berikan makanan lunak tinggi kalori tinggi protein.

§ Berikan klien makan dengan posisi semi fowler dan berikan waktu yang cukup untuk menelan.

§ Ciptakan suasana lingkungan yang nyaman dan terhindar dari bau – bauan yang tidak enak.

§ Monitor therapi secara intravena.

§ Timbang berta badan bila mungkin.

§ Jagalah kebersihan mulut ( Oral hygiene)

§ Berikan makanan ringan diantara waktu makan.

3) Resiko tinggi terjadinya infeksi sehubungan dengan infiltrasi bakteri melalui shunt.

Tujuan : Tidak terjadi infeksi / Klien bebas dari infeksi.

Intervensi :

§ Monitor terhadap tanda – tanda infeksi.

§ Pertahankan tekhnik kesterilan dalam prosedur perawatan

§ Cegah terhadap terjadi gangguan suhu tubuh.

§ Pertahanakan prinsiup aseptik pada drainase dan ekspirasi shunt.

4) Resiko tinggi terjadi kerusakan integritas kulit dan kontraktur sehubungan dengan imobilisasi.

Tujuan ; Pasien bebas dari kerusakan integritas kulit dan kontraktur.

Intervensi :

§ Mobilisasi klien (Miki dan Mika) setiap 2 jam.

§ Obsevasi terhadap tanda – tanda kerusakan integritas kulit dan kontrkatur.

§ Jasgalah kebersihan dan kerapihan tempat tidur.

§ Berikan latihan secara pasif dan perlahan

Daftar Pustaka

Axtonb, Sharon Ennis & Terry Fugate. (1993). Pediatric Cre Plans. USA: A Devision of The Benjamin/ Cummings Publishing Company Inc.

Whaley and Wong (1995), Nursing Care of infants and children, St.Louis : Mosby year Book

Doenges M.E, (1999), Rencana Asuhan keperawtan : pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, EGC, Jakarta

Lynda Juall Carpenito, (2000) Buku Saku : Diagnosa Keperawatan, Ed.8, EGC, Jakarta

Soetomenggolo,T.S . Imael .S , (1999), Neorologi anak, Ikatan Dokter Indonesia, Jakarta

Halminto,MP, (1995), Dasar- dasar keperawatan maternitas, Edisi. VI, EGC, Jakarta


1 komentar:

  1. wahh tugas kuliah gua jd mantab nih..
    thx artikelnya :)
    btw, mungkin link di bawah ini bisa jadi referensi juga
    hydrocephalus

    BalasHapus