Belajar NgeBlog

I am the next generation of muslim Nurse

Jumat, 30 Januari 2009

Tips/Cara Membuka Website/Situs Web Yang Diblokir/Terblokir

Ketika kita sedang asyik-asyik browsing di internet terkadang ada situs yang tidak bisa kita akses karena suatu hal baik secara tidak sengaja seperti putusnya koneksi jaringan internet atau secara sengaja untuk membatasi penggunaan internet penggunanya.

Sebaiknya cara ini tidak digunakan untuk mengakses link situs-situs web yang dilarang oleh pemerintah atau pun dilarang oleh pihak lain yang berwenang seperti pengelola kampus, pengelola sekolah, pengelola lab komputer, pengelola warnet, pengelola hotspot, isp, dan lain sebagainya.

Macam / Jenis Situs Web Yang Sering Diblokir :
- Website Porno
- Situs jejaring sosial
- Situs pelanggar hak cipta
- permainan game online / gamenet
- Chating di internet
- Situs fitnah, propaganda, pelecehan, dsb.

Caranya untuk membuka akses blokir cukup mudah karena hanya menggunakan jasa website pihak ke tiga untuk membantu membukakan jalan kita dengan proxy. Buka situs-situs contoh di bawah ini dan masukkan link url situs web yang mau kita kunjungi namun tidak bisa.

- anonymouse.org
- proxybrowsing.com
- w3privacy.com
- ninjacloak.com
- the-cloak.com
- shadowsurf.com
- proxify.com dll

Dengan cara ini pun kita bisa berselancar di dunia maya dengan aman karena informasi tentang di mana kita mengakses internet, catatan kunjungan, informasi pribadi kita, dsb bisa dirahasiakan dengan baik. Namun mungkin ada beberapa situs yang tidak mau menerima koneksi semacam ini. Selain itu jangan gunakan teknik ini untuk tindak kriminal / kejahatan karena yang pasti akan terungkap juga.

Rabu, 21 Januari 2009

RISET KEPERAWATAN

RISET KEPERAWATAN


Pendahuluan

Riset atau penelitian adalah suatu usaha yang sistematis, terkendali dan dan empiris dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan penyelesaian masalah. Penelitian terapan adalah penelitian yang diarahkan untuk tujuan mengatasi masalah melalui metode ilmiah.

Proses penelitian diawali dengan penyusunan proposal penelitian yang dimulai dari identifikasi masalah dibidang keperawatan melalui penelitian keperawatan sampai penyajian hasil penelitian.

Pengertian Riset (Penelitian)

Penelitan berasal dari bahasa Inggris “Research” yaitu penyelidikan atau pencarian secara teliti untuk memperoleh fakta baru dalam cabang ilmu pengetahuan. Penelitian merupakan sarana yang mutlak diperlukan agar ilmu pengetahun dapat berkembang, merupakan kegiatan yang dilakukan secara sistematis, terkendali, mempelajari suatu fenomena melalui pencarian fakta yang nyata (empiris) dan merupakan sarana untuk mencari kebenaran melalui pendekatan ilmiah.

Penelitian dilakukan terhadap suatu masalah yang dirasakan. Timbulnya masalah adalah merupakan pemicu untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Penelitian yang baik adalah apabila penelitian tersebut dapat bermanfaat secara langsung terhadap persoalan yang sedang dihadapi maupun bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya.

Penelitian tidak sama dengan evaluasi, hal ini dapat dilihat dari rincian sebagai berikut :

Penelitian merupakan proses ilmiah karena dalam penelitian menggunakan ilmu dan penelitian akan menghasilkan penemuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam penelitian menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan proses yang teratur yang menggunakan prinsip-prinsip ilmu, memerlukan langkah-langkah yang berurutan untuk mencari informasi bagi pemecahanmasalah. Metode ilmiah ditandai dengan ciri : 1) sistematis; 2) terkendali; 3) empiris (nyata); 4) generalisasi; dan 5) formulasi teori.

Aspek

Penelitian

Evaluasi

Tujuan Secara umum

1. Menemukan prinsip dan rekomendasi baru dengan menganalisis variable

2. Melihat hubungan-perbedaan antara dua atau lebih variabel

1.Membuat keputusan prinsip

2.Melihat evektifitas suatu proses dan memberikan “Judgment” terhadap kegunaan dan kebaikannya

Sipat keputusan yang dihasilkan

Dapat dijadikan dasar untuk memberikan prediksi dan perlu alasan generalisasi berikutnya.

Suatu rekomendasi yang dapat/perlu dilaksanakan segera; apa suatu program dapat diteruskan atau tidak

Perlakukan terhadap variable

  1. Teliti dan tepat sekali
  2. Data kuantitatif dianalisa dengan prosedur statistic
  3. Dikontrol secara khusus

1. Tidak terlalu spesifik

2. Data kuantitatif dan kualitatif dianalisa secara sederhana

3. Tampa control khusus

Pemberlakukan hasil

General atau berlaku umum tidak hanya dengan subjek penelitian

Digunakan hanya bagi tempat kegiatan dan tidak diharapkan pemberlakukan bagi tempat lain atau pihak lain

Hipotesa

Perlu dibuat khususnya pada penelitian eksploratif dan eksperimen

Tidak perlu

Desiminasi

Harus disebarluaskan secara terbuka dan tertulis sehingga dapat dimanfaatkan bahkan dikembangkan maupun diuji kembali

Hanya diperlukan bagi pihak tertentu yang berkaitan dengan tempat evaluasi

Kegiatan penelitian bergerak secara sistematis dan teratur, mulai dari; 1) penemuan masalah; 2) mengumpulkan data berdasarkan rancangan penelitian yang tepat; 3) analisis data dan; 4) merumuskan kesimpulan hasil penelitian. Kontrol merupakan unsur kunci dari pendekatan ilmiah. Kontrol melibatkan pemasukan kondisi dalam situasi penelitian agar masalah dapat diperkecil dan validitas (sahih) dan realibilitas (ketepatan) dapat tercapai. Empiris adalah proses dimana suatu kejadian berakar dari lialitas yang objektif dan dikumpulkan secara langsung atau tidak langsung melalui pengindraan dan digunakan untuk perumusan masalah. Penyelidikan empiris menghasilkan objektifitas penelitian karena gagasan/ide dicoba dalamsituasi nyata. Generalisasi merupakan slah satu ciri metoda ilmiah , berarti penelitian tidak menggunakan metode ilmiah untuk kejadian tertentu, tetapi harus mampu menggunakan hasil penelitian untuk lingkup yang luas. Generalisasi membantu perkembangan ilmu pengetahuan, memberikan penjelasan dan prediksi untuk pristiwa yang akan terjadi.

Penelitian keperawatan merupakan studi yang sistematis, mengkaji masalah keperawatan atau fenomena paktik dan asuhan keperawatan melalui studi yang kreatiif, mengawali dan mengevaluasi perubahan, mengambil tindakan untuk menghasilkan pengetahuan baru yang berguna bagi keperawatan

Tujuan, Sasaran dan Implikasi Penelitian Keperawatan

Tujuan penelitian adalah untuk menentukan, mengembangkan dan menguji kebenaran, khususnya terhadap ilmu pengetahun. Selain itu juga bertujuan untuk mencari sumbang pikiran dalam memecahkan masalah. Hal ini sesuai dengan sasaran penelitian yaitu mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan terhadap suatu masalah yang dihadapi melaui kegiatan penelitian dasar dan terapan.

Hasil suatu penelitian berupa temuan (findings) akan memberikan impliksi bagi pihak : 1) Ilmu pengetahuan (menyempurnakan pengetahuan yang sudah ada); 2) Perbaikan pelayanan atau program; 3) Tindak lanjut penelitian secara komprehensi.

Itulah sebabnya penelitian harus bersifat jelas, terbuka, jujur dan dapat diulang atau dikembangkan oleh orang lain. Bahkan lebih dari itu, hasil penelitian sebaiknya disesiminasikan secara luas baik melalui media cetak maupun diskusi kelompok besar sepertui seminar atau diskusi panel.

Penelitian keperawatan diadakan untuk menjawab persoalan dan pemecahan masalah keperawatan yang spesifik. Ini dilakukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang utuh bagi keperawatan. Penelitian keperawatan mempelajari integritas bidang pengetahuan dan perilaku manusia dan pengaruhnya satu sama lain adalah upaya mempelajari masalah kesehatan yang berhubungan dengan perilaku manusia dan bagaimana hubungan perilaku tersebut dengan kesehatan dan sakit.

Tujuan penelitian keperawatan untuk memperbaiki praktik profesi keperawatan khususnya bagi perbaikan mutu asuhan keperawatan.

Jenis Penelitian

Beberapa pendekatan digunakan untuk menetapkan klasifikasi jenis penelitian. Berdasarkan tujuan, metoda, kelengkapan, kesinambungan (waktu), tempat dan aktivitas dan dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar.1)

Disamping klasifikasi penelitian tersebut, jenis penelitian dapat pula digolongkan menurut jenis data yang dicari, yaitu :

I. Penelitian Kuantitatif:

  1. Bersifat objektif dan sistematis
  2. Data yang dicari bersifat numerik (kuantitatif) : Nominal (dikotomi); Ordinal (katagorikal); Interval (tidak ada nol absulut); Rasio (Nol absulut). Terdiri dari jenis penelitian sebagai berikut:
    1. Diskriftif (Non analitik) : pada populasi ; studi ekologi dan pada individu Case report, Case series, Cross sectional
    2. Obsevasional (Analitik) Cross sectional, case control, kohor
    3. Eksperimental (Eksperimental semu/ Quasi dan Eksperiment murni: RCT (Randomized Controlled Trial)\



Gambar 1

Disamping klasifikasi penelitian tersebut, jenis penelitian dapat pula digolongkan menurut jenis data yang dicari, yaitu :

II. Penelitian Kualitatif

  1. Bersifat subjektif
  2. Data yang dicari bersifat kualitatif tentang pengalaman dan perasaan/emosi. Terdiri dari jenis penelitian :

a. Fenomenalogical

b. Grounded theory (studi pengembangan teori)

c. Ethnografi (studi suku/bangsa)

d. Historical (studi pengalaman)

e. Philosophical (studi pengetahuan)

  1. Triangulasi (penggunaan lebih dari satu metode dalam mempelajari suatu penomena melalui; Theoritical, data, invertigasi, dann sebagainya.

Pelaku Penelitian

Sesuai dengan hakekatnya maka penelitian bertopang pada ilmu pengetahuan yang selanjutnya akan mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut karenanya penelitian harus dilaksanakann oleh orang yang memiliki dasar ilmu yang adekut sesuai dengan bidang yang diteliti. Bahkan mutu dan kualitas seseorang ilmuan dapat dinilai dari mutu ide dan kegiatan penelitian yang dilakukan.

Ilmuan yang mengamalkan ilmu tertentu dalam tugas perkerjaannya perlu mengembangkan ilmunya melalui penelitian. Dalam bidang kesehatan (UU No.23 1992) dinyatakan ada 4 ilmu bidang kesehatan yaitu kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat dan farmasi. Penelitian adalah tulang punggung ilmu pengetahuan karena pengetahuan berkembang dengan penelitian, tentunya hasil penelitian tersebut harus diamalkan dalam tatanan praktik profesi, dengan demikian akan memperbaiki mutu pelayanan profesi termasuk keperawatan.

Berkembangnya Penelitian

Sesuai dengan pengertian dan tujuan penelitian maka pada dasarnya penelitian dimulai dengan munculnya suatu fenomena yang dipermasalahkan dan dipertanyakan. Penelitian merupakan upaya untuk mendapatkan jawabannya melalui tahapan kegiatan (proses) penelitian yang sistematis, terkendali dan emperis (nyata/ sesuai dengan fakta). Suatu masalah atau pertanyaan penelitian timbul karena keingintahuan manusia. Dengan demuikian mengembangkan keingin tahuan atau mengidentifikasi masalah merupakan titik kegiatan penelitian. Permasalahan dan pertanyaan atau pernytaan (hipotesa)ada sejauhmana kejelasan terhadap situasi tersebut, faktor apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi, keterkaitan antara satu faktor dengan faktor lain dalam situasi tersebut.

Kita perlu tanggap terhadap fenomena atau masalah (kenyataan/situasi yang terjadi tidak sesuai dengan harapan/standar ) yang timbul di lingkungan kita dan mempunyai keinginan mengetahui dan menyelesaikan atau mencari jawaban terhadap samalah terebut. Fenomena perlu diteliti apabila situasi tersebut bersifat sebagai berikut:

1. Belum diketahui penyebabnya maupun akibatnya mengapa situasi terjadi

2. Informasi yang ada tentang situasi hanya sedikit sehingga diperlukan penjelasan lain yang lebih banyak dan jelas

3. Infornasi yang ada meragukan dan membingungkan sehingga perlu kepastian

4. Cara-cara yang ada dan dilakukan bersifat alternatif atau konsep mutahir sehingga perlu dipelajari lebih lanjut kesesuaian cara yang ada atau mengidentifikasi efektivitas cara lain.

Lingkup dan Area Penelitian keperawatan

Lingkup penelitian keperawatan termasuk dalam penelitian kesehatan serta bersumber pada penelitian epedemiologi kesehatan serta dalam area penelitian keperawatan sebagai berikut;

I. Pre Klinik :

1. Keperawatan dasar

2. Dasar Keperawatan

3. Administrasi dan Manajemen Keperawatan dan Kesehatan

4. Pendidikan Keperawatan

5. Teori terkait (kedokteran, farmasi, kesehatan masyarakat, psikologi, sosial dll)

II. Klinik:

1. Keperawatan Reproduksi (Maternal Perinatal)

2. Keperawatan Pediatrik

3. Keperawatan Medikal Bedah

4. Keperawatan Psikiatrik

III. Komunitas :

1. Keperawatan Keluarga

2. Keperawatan Komunitas

3. Keperawatan Gerontik dan Kelompok khusus

4. Keperawatan Kesehatan Matra dan kesehatan kerja

Proses (Tahapan Kegiatan) Penelitian

Proses penelitian terdiri atas 4 tahapan yang berurutan yang direncanakan untuk menjawab pertanyaan-pernyataan penelitian atau pemecahan masalah penelitian, yaitu; 1) Tahapan perencanaan (menyusun proposal) ; 2) Tahap pelaksanaan (pengumpulan data, penampilkan data) ; 3) Tahap analisis (mengelompokkan data, menerapkan cara perhitungan / statistik yang sesuai, interpretasi hasil penelitian); 4) Tahap desiminasi (menyajikan hasil penelitian secara tertulis diserta secara lisan dalam bentuk pertanggungjawaban / promosi)

1. Tahap Perencanaan (pembuatan proposal)

Tahap ini merupakan tahap yang menentukan hasil kegiatan, serta akan berakhir dengan output berupa suatu proposal atau rancangan penelitian dan melampaui berbagai kegiatan panjang dan sistematis.

Diawali dengan mengidentifikasi masalah penelitian dan merumuskan masalah, menetapkan tujuan umum dan khusus serta maksud penelitian, merujuk bahan kepustakaan, merumuskan hipotesis (tidak semua penelitian) atau pertanyaan penelitian, menentukan rancangan / desain serta metodologi penelitian termasuk rancangan analisis data/hasil penelitian.

Sesuai dengan hakekat penelitian ingin menemukan, mengembangkan dan membuktikan kebenaran maka upaya perencanaan harus merujuk kepada konsep pengetahun dan teori oleh karenanya penelusuran kepustakaan untuk mendapatkan konsep dan teori yang sementara yang ada sebagai pijakan merupakan kegiatan yang mutlak dilakukan. Untuk selanjutnya akan diperoleh konsep dan teori baru yang lebih tepat tau pengtetahuan yang sesuai atau tepat guna. Kegiatan lainnya dalam tahap ini adalah melakukan penelaahan etis dan uji coba metodologi penelitian khususnya (instrumen atau alat pengumpul data agar hasilnya valid dan reliabel)

2. Tahap Pelaksanaan

Kegiatan ini akan dilakukan jika prosedur administrasi telah ditempuh dan mendapat ijin dari pihak tempat penelitian dan pihak yang memberikan wewenang mengadakan penelitian termasuk secata etik yaitu oleh komisi etik. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan teknik yang telah ditentukan dan diujicobakan . Dalam tahap ini peneliti mengikuti setiap rencana yang ada dalam proposal dan telah disepakati. Apabila ada kemdala yang tidak diharapkan selama pengumpulan data, peneliti dapat mengambil keputusan mengubah prosedur penelitian atau tetap menerapkan sesuai proposal. Pengumpulan data dapat dilakukan oleh asisten peneliti yang terlebih dahulu telah mendapat pelatihan, artinya siapapun yang membantu penelitian akan tetap mematuhi ketentuan yang ada dan telah ditetapkan dalam proposal.

3. Tahap Analisa Data

Data yang telah dihitung dan ditabulasi, dianalisis mengunakan perhitungan/uji statistik yang sesuai (penelitian kuantitatif) dan triangulasi (penelitian klualitatif) selanjutnya di interpretasi dan menghasilkan temuan. Temuan penelitian perlu disentesa dengan memadukan bersama konsep dan teori dalam studi kepustakaan kemudian dipadukan dengan hasil penelitian terdahulu/sejenis sehingga dapat menghasilkan kesimpulan. Kesimpulan yang dihasilkan dalam tahap analisis data adalah hasil yang paling bermakna dalam penelitian. Artinya penelitian tidak akan menghasilkan apa-apa atau tak berarti sebelum menyimpulkan temuan penelitian.

4. Tahap Pelaporan

Penelitian sebagai metode ilmiah dalam hasanah pengetahuan perlu disebar luaskan secara terbuka sehingga hasilnya dapat dikonsumsi (dibaca, dipahami bahkan diterapkan untuk memperbaiki atau meningkatkan pelayanan serta kehidupan manusia). Selain sebagai sumber / sanggahan untuk penelitian berikutnya. Pelaporan penelitian juda dapat dianggap sebagai bentuk pertanggungjawaban tentang apa yang telah dilakukan, bahwa peneliti telah bersandar pada suatu konsep dan teori yang baik dan benar menyembangkannya serta memantapkannya. Kewajiban untuk melaporkan penelitian juga akan membuat peneliti berhati-hati dalam memenuhi kriteria metoda ilmiah yaitu sistematis, terkendali, empiris dan genetalisasi.

HIDROCEPHALUS

Laporan Pendahuluan
Hidrocephalus

1. Pengertian.

Hidrocephalus adalah kelebihan akumulasi cairan serebrospinal didalam ventrikrl serebral, ruang arachnoid, atau ruang subdural (cindy smith, 1998)

Hidrocephalus adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan intrkranial yang disebabkan karena adanya penumpukan cerebrospinal fluid didalam ventrikel otak (Sharon & Terry; 1993; 292).

Hidrocephalus adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh produksi yang tidak seimbang dan penyerapan dari cairan cerebrospinal (CSF) di dalam sistem Ventricular. Ketika produksi CSF lebih besar dari penyerapan, cairan cerebrospinal mengakumulasi di dalam sistem Ventricular.

Beberapa type hydrocephalus berhubungan dengan kenaikan tekanan intrakranial. 3 (Tiga) bentuk umum hydrocephalus :

a. Hidrocephalus Non – komunikasi (nonkommunicating hydrocephalus)

Biasanya diakibatkan obstruksi dalam system ventrikuler yang mencegah bersikulasinya CSF. Kondisi tersebut sering dijumpai pada orang lanjut usia yang berhubungan dengan malformasi congenital pada system saraf pusat atau diperoleh dari lesi (space occuping lesion) ataupun bekas luka. Pada klien dewasa dapat terjadi sebagai akibat dari obstruksi lesi pada system ventricular atau bentukan jaringan adhesi atau bekas luka didalam system di dalam system ventricular. Pada klien dengan garis sutura yag berfungsi atau pada anak – anak dibawah usia 12 – 18 bulan dengan tekanan intraranialnya tinggi mencapai ekstrim, tanda – tanda dan gejala – gejala kenaikan ICP dapat dikenali. Pada anak – anak yang garis suturanya tidak bergabung terdapat pemisahan / separasi garis sutura dan pembesaran kepala.

b. Hidrosefalus Komunikasi (Kommunicating hidrocepalus)

Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada aliran CSF tetapi villus arachnoid untuk mengabsorbsi CSF terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit atau malfungsional. Umumnya terdapat pada orang dewasa, biasanya disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid dengan darah sesudah terjadinya hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan tanda dan gejala – gejala peningkatan ICP)

c. Hidrosefalus Bertekan Normal (Normal Pressure Hidrocephalus)

Di tandai pembesaran sister basilar dan fentrikel disertai dengan kompresi jaringan serebral, dapat terjadi atrofi serebral. Tekanan intrakranial biasanya normal, gejala – gejala dan tanda – tanda lainnya meliputi ; dimentia, ataxic gait, incontinentia urine. Kelainan ini berhubungan dengan cedera kepala, hemmorhage serebral atau thrombosis, mengitis; pada beberapa kasus (Kelompok umur 60 – 70 tahun) ada kemingkinan ditemukan hubungan tersebut.

2. Etiologi

Hydrosephalus dapat disebabkan oleh kelebihan atau tidak cukupnya penyerapan CSF pada otak atau obstruksi yang muncul mengganggu sirkulasi CSF di sistim ventrikuler dan dapat juga disebabkan oleh kelaianan bawahan (konginetal ), infeksi, neoplasma, perdarahan.

Kondisi diatas pada bayi dikuti oleh pembesaran kepala. Obstruksi pada lintasan yang sempit (Framina Monro, Aquaductus Sylvius, Foramina Mengindie dan luschka) pada ventrikuler menyebabkan hidrocephalus yang disebut : Non comunicating (Internal Hidricephalus)

Obstruksi biasanya terjadi pada ductus silvius di antara ventrikel ke III dan IV yang diakibatkan perkembangan yang salah, infeksi atau tumor sehingga CSF tidak dapat bersirkulasi dari sistim ventrikuler ke sirkulasi subarahcnoid dimana secara normal akan diserap ke dalam pembuluh darah sehingga menyebabkan ventrikel lateral dan ke III membesar dan terjadi kenaikan ICP.

Type lain dari hidrocephalus disebut : Communcating (Eksternal Hidrocephalus) dmana sirkulasi cairan dari sistim ventrikuler ke ruang subarahcnoid tidak terhalangi, ini mungkin disebabkan karena kesalahan absorbsi cairan oleh sirkulasi vena. Type hidrocephalus terlihat bersama – sama dengan malformasi cerebrospinal sebelumnya.

3. Patofisiologi

Penting untuk memahami perkembangan cairan cerebrospinal (CSF) dari berbagai hubungan yang membentuk Ventricular dan ruang Subarachcoid.

Ventrikel Sirkulasi Cairan mengalir dari cabang sampai ke bilik jantung, melalui Foramen Monro menuju bilik jantung ketiga, tempat dimana bergabung dengan cairan yang keluar pada bilik jantung ketiga tersebut. Dari cairan itu mengalir melalui saluran Sylvius menuju bilik jantung keempat tempat banyak cairan dibentuk, kemudian meninggalkan bilik jantung keempat menuju cabang samping foramen luschka dan garis tengah foramen Magendie ke dalam Cisterna Magna. Dari situ akan mengalir ke bagian otak dan diserap oleh beberapa mekanisme yang menghisap antara lain arachnoid villi, sinuses (lubang yang menghubungkan rongga hidung dengan dasar kepala, urat darah halus, otak).

4. Tanda dan Gejala

Kepala bisa berukuran normal dengan fontanela anterior menonjol, lama kelamaan menjadi besar dan mengeras menjadi bentuk yang karakteristik oleh peningkatan dimensi ventrikel lateral dan anterior – posterior diatas proporsi ukuran wajah dan bandan bayi.

Puncak orbital tertekan kebawah dan mata terletak agak kebawah dan keluar dengan penonjolan putih mata yang tidak biasanya.

Tampak adanya dsitensi vena superfisialis dan kulit kepala menjadi tipis serta rapuh.

Uji radiologis : terlihat tengkorak mengalami penipisan dengan sutura yang terpisah – pisah dan pelebaran vontanela.

Ventirkulogram menunjukkan pembesaran pada sistim ventrikel . CT scan dapat menggambarkan sistim ventrikuler dengan penebalan jaringan dan adnya massa pada ruangan Occuptional.

Pada bayi terlihat lemah dan diam tanpa aktivitas normal. Proses ini pada tipe communicating dapat tertahan secara spontan atau dapat terus dengan menyebabkan atrofi optik, spasme ekstremitas, konvulsi, malnutrisi dan kematian, jika anak hidup maka akan terjadi retardasi mental dan fisik.

5. Manifestasi klinik

Gejala klinis lain antara lain, pembuluh darah di kulit kepala yang tampak makin jelas seiring penonjolan ubun-ubun bayi, gangguan sensorik-motorik, gangguan penglihatan dan gerakan bola mata, penurunan aktivitas mental, suhu badan yang sulit dikendalikan, muntah, kejang, serta berujung pada gangguan fungsi vital.

Penyebab Hidrocephalus ada bermacam-macam, diakibat oleh dua :

1) Rusaknya cairan cerebrospinal

2) Bendungan cairan cerebrospinal menuju sistem ventricular.

Jarang terjadi sebuah tumor choroid plexus menyebabkan perkembangan pengeluaran cairan cerebrospinal dalam kamar jantung, yang menjadi membesar dan memadat pada inti otak kaku dan kecil, ketika ini terjadi yakni sebelum penyatuan jahitan bedah, menghasilkan tengkorak yang membesar seperti kamar jantung yang membesar.

Hidrocephalus yang tidak dapat disembuhkan adalah rusaknya penghisapan cairan cerebrospinal, sedangkan adanya hubungan cairan cerebrospinal menuju sistem ventricular digolongkan pada Hidrocephalus yang dapat disembuhkan. Banyak masalah dalam kaitan dengan Hidrocephalus yang tak dapat disembuhkan adalah akibat dari cacat. Meskipun cacat itu biasanya nampak pada masa kecil yang lebih awal, itu bisa menjadi bukti bahwa ia telah ada sebelum lahir bagi anak-anak yang lahir terlambat maupun orang dewasa yang lahir lebih awal. Sebab lain mencakupi neoplasma, infkesi dan trauma. Halangan bagi cairan normal dapat terjadi pada jalan kecil dicairan cerebrospinal yang menghasilkan tekanan dan pembesaran pada jalan kecil yang terdekat di tempat halangan.

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi

Pengobatan pada hidrocephalus langsung diberikan kepada :

1) Mengurangi hidrocephalus itu sendiri

2) Mengobati komplikasi

3) Mengatasi masalah yang berhubungan dengan efek pada gangguan perkembangan psikomotor.

Pengobatan itu dilakukan dengan beberapa cara keucali operasi pembedahan.

Terapi medis sangat mengecewakan, banyak bayi yang lahir dengan pendarahan terus-menerus yaitu sambungan syaraf mengalami kebocoran dan pengobatan sudah banyak diterapkan namun tidak membawa hasil yang memuaskan.

Pada tindakan lumbal fungsi yang serial dan medication yang digunakan hasilnya sangat bervariasi.

Pengobatan dengan acetazolamide dan isosorbide atau furosimida dapat menekan produksi CSF pada setiap kasus.

  1. Pengobatan dengan pembedahan (Operasi)

Penanganan bedah merupakan terapi pilihan pada sejumlah kasus hidrocephalus.

Cara ini dengan secara langsung untuk mengeluarkan sumbatan-sumbatan sebagai contoh receptio neoplasma, kiste, hematom, jarang terjadi pada produksi cairan yang berlebihan, exterpasi plexus (plexectomy atau cuagulasi electric) namun banyak anak membutuhkan prosedur shunt yang mengakibatkan pengaliran CSF dari ventrikel ke bagian extracranial biasa peritonium.

Sistem shunt terdiri dari cateter ventrikel, flush pompa, katup aliran unidirectional dan sebuah ujung cateter. Semuanya merupakan radiopag untuk pengamatan setelah placemen. Semuanya dicoba ketepatannya sebelum incersi.

Sebuah recervoir ditambahkan untuk mengalirkan secara langsung ke dalam sistim ventrikular untuk memberikan obat-obatan dan mengeluarkan cairan. Untuk semua model katup dibentuk untuk membuka dan menutup. Membuka sebelum terjadi tekanan pada intraventrikuler dan menutup ketika tekanan berada dibawah level yang normal, semuanya untuk mencegah aliran kembali. Tekanan tinggi pada katup untuk mencegah komplikasi dari decompretion pada ventrikel dan tekanan sedang pada katup digunakan pada anak-anak khususnya pada long standing hidrocephalus sedangkan tekanan rendah pada bayi kecil.

7. Komplikasi

Komplikasi terbesar pada VP Shunt adalah infeksi dan malfungsi. Malfungsi lebih sering disebabkan oleh obstruksi mekanik di dalam ventrikel dari bahan-bahan khusus (jaringan atau exudate) atau ujung distal dari trombosis atau displacement sebagai akibat dari pertumbuhan. Anak dengan obstruksi shunt sering menunjukan kegawatan dengan manifestasi klinik peningkatan ICP, yang lebih sering disertai dengan status neorologis yang jelek.

Komplikasi yang sering terjadi adalah infkesi shunt yang dapat terjadi setiap saat tetapi resiko terbesar terjadi pada 1-2 bulan mengikuti placement. Infeksi umumnya akibat dari intercurent infection pada saat shunt placement. Infeksti itu meliputi septik, endocarditis bacterial, infeksi luka, nefritis shunt, meningitis dan ventrikulitis. Meningitis dan ventrikulitis adalah of greatest concern, selama ditemukan komplikasi infeksi CNS. Infeksi dapat diobati dengan pengobatan pasive antibiotika yang diberikan secara intravena. Sebagian infeksi membutuhkan removal of the shunt sampai infeksi dapat dikontrol. External ventricular drainase digunakan sampai CSF steril.

Sebuah komplikasi shunt yang serius adalah hematoma subdural yang disebabkan oleh reduksi yang cepat pada ICP dan ukurannya. Komplikasi yang dapat terjadi adalah peritonitis abses abdominal, perporasi organ-organ abdomen oleh catater atau trokar (pada saat insersi), fistula hernia dan ilius.

8. Diagnosa Keperawatan Dan Intervensi

a. Pre Operatif

1) Gangguan rasa nyaman: Nyeri sehubungan dengan meningkatkanya tekanan intrakranial .

Data Indikasi : Adanya keluahan Nyeri Kepala, Meringis atau menangis, gelisah, kepala membesar

Tujuan ; Klien akan mendapatkan kenyamanan, nyeri kepala berkurang

Intervensi :

§ Jelaskan Penyebab nyeri.

§ Atur posisi Klien

§ Ajarkan tekhnik relaksasi

§ Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian Analgesik

§ Persapiapan operasi

2) Kecemasan Orang tua sehubungan dengan keadaan anak yang akan mengalami operasi.

Data Indikasi : Ekspresi verbal menunjukkan kecemasan akan keadaan anaknya.

Tujuan : Kecemasan orang tua berkurang atau dapat diatasi.

Intervensi :

§ Dorong orang tua untuk berpartisipasi sebanyak mungkin dalam merawat anaknya.

§ Jelaskan pada orang tua tentang masalah anak terutama ketakutannya menghadapi operasi otak dan ketakutan terhadap kerusakan otak.

§ Berikan informasi yang cukup tentang prosedur operasi dan berikan jawaban dengan benar dan sejujurnya serta hindari kesalahpahaman.

3) Potensial Kekurangan cairan dan elektrolit sehubungan dengan intake yang kurang diserta muntah.

Data Indikasi ; keluhan Muntah, Jarang minum.

Tujuan : Tidak terjadi kekurangan cairan dan elektrolit.

Intervensi :

§ Kaji tanda – tanda kekurangan cairan

§ Monitor Intake dan out put

§ Berikan therapi cairan secara intavena.

§ Atur jadwal pemberian cairan dan tetesan infus.

§ Monitor tanda – tanda vital.

b. Post – Operatif.

1) Gangguan rasa nyaman : Nyeri sehubungan dengan tekanan pada kulit yang dilakukan shunt.

Data Indikasi ; adanya keluhan nyeri, Ekspresi non verbal adanya nyeri.

Tujuan : Rasa Nyaman Klien akan terpenuhi, Nyeri berkurang

Intervensi :

§ Beri kapas secukupnya dibawa telinga yang dibalut.

§ Aspirasi shunt (Posisi semi fowler), bila harus memompa shunt, maka pemompaan dilakukan perlahan – lahan dengan interval yang telah ditentukan.

§ Kolaborasi dengan tim medis bila ada kesulitan dalam pemompaan shunt.

§ Berikan posisi yang nyama. Hindari posisi pada tempat dilakukan shunt.

§ Observasi tingkat kesadaran dengan memperhatikan perubahan muka (Pucat, dingin, berkeringat)

§ Kaji orisinil nyeri : Lokasi dan radiasinya.

2) Resiko tinggi terjadinya gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan intake yang tidak adekuat.

Data Indikasi ; Adanya keluhan kesulitan dalam mengkonsumsi makanan.

Tujuan : Tidak terjadi gangguan nutrisil.

Intervensi :

§ Berikan makanan lunak tinggi kalori tinggi protein.

§ Berikan klien makan dengan posisi semi fowler dan berikan waktu yang cukup untuk menelan.

§ Ciptakan suasana lingkungan yang nyaman dan terhindar dari bau – bauan yang tidak enak.

§ Monitor therapi secara intravena.

§ Timbang berta badan bila mungkin.

§ Jagalah kebersihan mulut ( Oral hygiene)

§ Berikan makanan ringan diantara waktu makan.

3) Resiko tinggi terjadinya infeksi sehubungan dengan infiltrasi bakteri melalui shunt.

Tujuan : Tidak terjadi infeksi / Klien bebas dari infeksi.

Intervensi :

§ Monitor terhadap tanda – tanda infeksi.

§ Pertahankan tekhnik kesterilan dalam prosedur perawatan

§ Cegah terhadap terjadi gangguan suhu tubuh.

§ Pertahanakan prinsiup aseptik pada drainase dan ekspirasi shunt.

4) Resiko tinggi terjadi kerusakan integritas kulit dan kontraktur sehubungan dengan imobilisasi.

Tujuan ; Pasien bebas dari kerusakan integritas kulit dan kontraktur.

Intervensi :

§ Mobilisasi klien (Miki dan Mika) setiap 2 jam.

§ Obsevasi terhadap tanda – tanda kerusakan integritas kulit dan kontrkatur.

§ Jasgalah kebersihan dan kerapihan tempat tidur.

§ Berikan latihan secara pasif dan perlahan

Daftar Pustaka

Axtonb, Sharon Ennis & Terry Fugate. (1993). Pediatric Cre Plans. USA: A Devision of The Benjamin/ Cummings Publishing Company Inc.

Whaley and Wong (1995), Nursing Care of infants and children, St.Louis : Mosby year Book

Doenges M.E, (1999), Rencana Asuhan keperawtan : pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, EGC, Jakarta

Lynda Juall Carpenito, (2000) Buku Saku : Diagnosa Keperawatan, Ed.8, EGC, Jakarta

Soetomenggolo,T.S . Imael .S , (1999), Neorologi anak, Ikatan Dokter Indonesia, Jakarta

Halminto,MP, (1995), Dasar- dasar keperawatan maternitas, Edisi. VI, EGC, Jakarta